Dipublikasi pada 13 Aug 2018Mitos atau Fakta, Travel Blogger adalah Pekerjaan Impian Setiap Manusia Kerjanya jalan-jalan, foto-foto tapi dibayar. Kayaknya enak banget hidupnya nggak punya beban deadline kantor, atau frustasi butuh liburan.

Mitos atau Fakta, Travel Blogger adalah Pekerjaan Impian Setiap Manusia

Kerjanya jalan-jalan, foto-foto tapi dibayar. Kayaknya enak banget hidupnya nggak punya beban deadline kantor, atau frustasi butuh liburan.

Selain jadi bos besar yang bergelimang harta, bekerja sebagai travel blogger adalah pekerjaan yang diimpikan banyak orang, khususnya anak muda. Bagaimana tidak, yang kita lihat para travel bloger ini kerjanya cuma jalan-jalan tapi dapat penghasilan. Kalau seperti itu kelihatannya, siapa sih yang ngak kepingin jadi travel blogger

Kamu pengen? Sama saya juga pengen.

Kuingin jalan-jalan tapi dapat penghasilan. Sumber gambar dari www.pexels.com

Sebenarnya setiap orang di bumi ini bisa kok dapat penghasilan dari jalan-jalan. Asalkan ada niat, usaha, komitmen, dan keberuntungan hehe. Tapi sebelum kita benar-benar ingin menekuni kegiatan ini, sebaiknya mari sama-sama membaca mitos dan fakta dari travel blogger. Biar nanti kalau sudah terlanjur mendalaminya, tak ada rasa sesal dan kecewa di dada.

Mitos dan fakta yang akan saya beberkan di bawah ini bukan ditulis asal-asalan loh. Melainkan ditulis dari berbagai wawancara yang sudah pernah saya lakukan bersama para travel blogger yang penghasilannya jutaan rupiah. Are you ready? Check this out!

Mitos : Jadi travel blogger itu menyenangkan karena kerjanya hanya jalan-jalan

Faktanya :

Well, sebenarnya mitos ini tidak salah 100%. Ya karena memang kalau tidak jalan-jalan, si travel blogger ini dapat bahan tulisan dari mana? Masa iya mau copy paste dari blog tetangga? Meski harus diakui bahwa seorang travel blogger juga butuh membaca blog tetangga untuk referensinya, tapi bukan berarti ia bisa meniru seenaknya tulisan tersebut.

Karena percaya nggak percaya, travel blogger yang sudah professional biasanya adalah seorang yang idealis dan perfeksionis dengan karya tulisannya, bukan seorang plagiator ulung.

Jadi travel blogger nggak sesederhana itu guys! Sumber gambar dari www.pexels.com

Dan kenyataan lainnya menjadi seorang travel blogger juga punya tekanan dalam pekerjaannya loh. Jika orang lain menganggap jalan-jalan adalah ajang refreshing, maka bagi travel blogger, itu adalah pekerjaannya. Sehingga banyak hal kecil yang harus diperhatikan oleh para travel blogger demi mendapatkan bahan tulisan sekreatif mungkin. Orang lain mungkin hanya akan menikmati liburannya dengan berfoto mengabadikan momennya. Sementara bagi travel blogger, proses mengambil foto juga didasarkan pertimbangan untuk pendukung tulisannya. Usai berlibur, para travel blogger ini justru memiliki PR yaitu menuliskan pengalaman berliburnya yang disajikan secara informatif dan menghibur pembaca.

Nah, ternyata nggak se-menyenangkan bayangan kita kan? Itu baru mitos pertama loh, masih penasaran sama lanjutan mitosnya kan?

Mitos : Apakah travel blogger adalah pekerjaan satu-satunya bagi si dia?

Faktanya :

Mitos kedua ini sebenarnya mengundang gelak tawa dari travel blogger yang saya wawancara. Sebagian besar dari mereka menjawab mitos ini dengan jawaban yang cukup menyentil seperti ini misalnya, “bisa jadi pekerjaan utama, kalau aku pewaris tunggal dari kekayaan 7 turunan.” Atau ada lagi yang seperti ini, “pekerjaan utama kalau modal jalan-jalan tinggal metik dari pohon”.

Sudah jelas kan bahwa sebenarnya para travel blogger ini juga punya pekerjaan lain yang digunakan untuk mendanai jalan-jalannya. Bahkan untuk jalan-jalan ke tempat wisata terdekat pun masih membutuhkan dana. Kalau belum mencapai titik sebagai seorang professional yang pasti mendapat bayaran tetap berjuta-juta rupiah dengan, saya rasa semua setuju jika seorang travel blogger masih membutuhkan asupan dana dari pekerjaan lain.

Pekerjaan sampingan atau utama nih? sumber gambar dari www.pexels.com

Apalagi mayoritas penghasilan yang didapatkan dari blogging biasanya akan digunakan sebagai modal untuk jalan-jalan lagi. Jadi uangnya akan tetap berputar sebagai modal, sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ya mereka bekerja sebagai pekerja pada umumnya. Entah sebagai karyawan kantor, pengusaha, atau apapun itu.

Mitos : Jadi travel blogger itu banyak duitnya ya

Faktanya :

Sebenarnya meskipun nggak jadi travel blogger, asal kita giat berusaha dan berdoa juga pasti ada saja rejeki yang akan kita terima. Hanya saja sampai detik ini, manusia memang lebih suka menghaimi sesuatu hanya dari tampak luarnya. Padahal merea tak pernah memahami tentang kesulitan yang harus dilalui untuk mencapai titik tersebut.

Beberapa travel blogger yang saya wawancara bahkan menyebutkan di awal mereka terjun ke bidang ini, mereka harus berpuasa, tirakat dari semua keinginan duniawi hanya untuk menabung demi modal jalan-jalan. Sementara orang lain hanya akan berkomentar “enak ya jadi si A, duitnya banyak jalan-jalan mulu”.

Intinya netizen ini seperti sepakat dengan pepatah rumput tetangga selalu lebih hijau.

Jalan-jalan juga butuh modal cuy, sumber gambar dari www.pexels.com

Bahkan ekstremnya beberapa travel blogger mengaku bahwa uang yang dikeluarkan untuk jalan-jalan selalu lebih besar dari penghasilan yang diterima. Nah sebenarnya bisa dikatakan mereka ini justru merugi kan bukan panen untung. Hanya yang membedakan adalah mereka pandai bersyukur dengan yang dimiliki. Bagi mereka, kesempatan untuk jalan-jalan adalah harta mereka yang sesungguhnya. Karena dari jalan-jalan mereka bisa memperkaya diri dengan wawasan baru, budaya baru, hingga relasi baru yang tak ternilai dengan rupiah.

Mitos : Modal travel blogger cuma nulis sama moto kan?

Faktanya :

Kalau ini perlu logika sih sebenarnya. Sehebat apapun seseorang dalam menulis, kalau ia tidak dilengkapi dengan ilmu SEO dan digital marketing, koneksi yang bagus, komunitas yang mendukung, ya sia-sia saja tulisan bagus itu. Jadi nggak Cuma omong besar dengan sebuah tulisan, tapi juga harus dimatangkan dengan ilmu lainnya agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Tugas travel blogger itu berat, kamu nggak akan kuat. Sumber gambar dari www.pexels.com

Samahalnya dengan ilmu fotografi. At least, kalau nggak punya skill yang professional, asah kepekaanmu dengan sense of photography. Jadi kekurangan skillmu bisa sedikit tertutupi dengan kelihaianmu dalam memilih angle foto yang unik dan menarik. Tidak usah muluk-muluk harus pakai kamera mahal, karena pada akhirnya yang menentukan kualitas sebuah foto bukan mahalnya kamera, melainkan manusia dibalik kamera itu sendiri.

Jadi inti dari mitos fakta ini adalah tentang bagaimana kita harus belajar bersyukur untuk keadaan dan kesempatan yang dimiliki. Jangan gampang terlena dengan kesuksesan orang lain yang “kita anggap” hidupnya lebih enak daripada kita. Jika memang passionmu adalah menjadi travel blogger, mulailah belajar dari bawah secara bertahap. Dan pastikan kamu siap dengan sebuah kegagalan, karena tidak ada kesuksesan yang bisa diraih hanya dengan sekali mencoba.

Akhir kata saya pamit mau undur diri, tolong jangan dihujat karena saya hanya mencoba mengemukakan pendapat hehe.

Komentar (0)

Anda harus masuk terlebih dahulu untuk bisa berkomentar.