Dipublikasi pada 03 Aug 2018Ada Surga di Tanah Jawa Semua terasa indah kalau sedang jatuh cinta, begitulah perasaan saya pada pulau Jawa, milik Indonesia.

Ada Surga di Tanah Jawa

Semua terasa indah kalau sedang jatuh cinta, begitulah perasaan saya pada pulau Jawa, milik Indonesia.

Saya lahir dan tumbuh besar di Surabaya, tapi sayang 23 tahun menua di ibukota rasanya membuat hidup ini biasa saja, kurang berwarna. Hingga akhirnya di penghujung tahun 2017, demi membuat resolusi untuk hidup lebih baik di thaun 2018, saya pun nekat untuk menjalani hidup yang "tak biasa."

Keluar dari zona nyaman, cie.

23 tahun menghabiskan banyak waktu di rumah, sekolah, dan pusat perbelanjaan seperti menjadikan saya sebagai pribadi yang manja dan gampang loyo. Lalu suatu hari, saya menemukan sebuah bacaan menarik menggugah hati. Seperti disadarkan dari tidur panjang ratusan malam, alasan hidup saya terasa flat karena kurang main. Jangankan main jauh, yang deket aja paling cuma ke mall, ya macam TP atau Citos gitu kali ya.

Mall Surabaya? Sumber: https://www.pexels.com/photo/assorted-color-item-lot-on-store-1235964/

Singkat cerita, saya akhirnya mulai melakukan perjalanan "religius" dengan mendatangi berbagai tempat menarik di Surabaya dan Malang. Sebelum akhirnya ketagihan berkelana, dan saya sukses menyelesaikan misi keliling Pulau Jawa dalam waktu singkat, 6 bulan saja. Hehe

Keliling Pulau Jawa. Sumber: https://www.pexels.com/photo/close-up-of-pictures-185933/

Betapa menyesalnya saya, mengapa tak sedari dulu melakukan perjalanan ini. Tak pernah saya sangka kalau sebenarnya Jawa ini memiliki banyak surga, dari yang masih tersembunyi sampai yang sudah viral di instagram. 6 bulan lamanya saya menjelajah pulau Jawa, kulit menghitam, kenangan pun melekat tajam.

Wisata alam yang menenangkan, wisata buatan yang ekstrem dan kekinian, wisata sejarah yang membanggakan, wisata religi yang suci, hingga wisata kuliner yang menggugah selera, semua jadi satu membaur di Tanah Jawa.

Air terjun Sedudo hingga Coban Rondo, gemercik airnya terdengar merdu, pelipur lara saat hati sedang sendu. Pantai Klayar hingga Pantai Balekambang, debur ombaknya mendebarkan, melambangkan kedamaian. Yogyakarta ku sayang, Semarang ku kenang, ah Jawa!

Saya patut bersyukur, karena bukan hanya juara soal wisata, manusianya pun sangat ramah dan menyenangkan. Mereka selalu terbuka setiap kali saya singgah. Berbaik hati menjawab semua pertanyaan yang terlontar, setiap kali rasa ingin tahu tentan asal usul desa, semua dijawab dengan saksama.

Seperti sebuah cerita singgah yang terjadi saat berkunjung ke Solo. Kala itu saya memang berencana datang untuk belajar "mbatik". Awalnya saya mengira kalau urusan batik membatik, perkainan, dan jahit-menjahit ya pasti yang mendominasi pasti kaum wanita. Tapi ternyata saya salah besar. Di Solo, banyak laki-laki maco gagah berani yang ternyata berprofesi sebagai pembatik andal nan profesional.

Belajar membatik, sumber: https://www.outlookindia.com/outlooktraveller/mp/visual-escape/photo-gallery/batik-painting-behrugarh/


Ya, meski saya sudah mbetik, tetep dong harus semangat belajar mbatik. Apasih!

Di Solo saya sadar, tak bijak rasanya kalau berbelanja kain batik tapi masih ngeyel menawar harga murah. Karena sesungguhnya membuat batik itu tak pernah mudah! Butuh semangat juang yang  tinggi agar tak mudah menyerah, jadi mana bisa kita seenak udel nawar harga batik tulis yang sudah dibuat sebaik mungkin.

Semua dikerjakan dengan tangan, tanpa bantuan mesin canggih. Lilin panas dalam canting, menggambar di atas kain putih bersih, saya yang kebetulan mencoba prosesnya aja 10 menit udah keder duluan.

Lain Solo, lain Kulonprogo. Di Kulonprogo, pengalamannya jelas berbeda. Mendatangi berbagai spot hits instagram seperti Kalibiru. Nah di Kalibiru ini saya menemukan definisi sempurna saat menikmati senja. Etdah, ini pemandangannya sampai nggak bisa didefinisikan dengan kata-kata loh.

Senja di Kalibiru, sumber: https://www.flickr.com/photos/[email protected]/35601910645/

Sore hari di Kalibiru, pagi hari di Air Terjun Curug Sidoharjo, ini seperti bebas sementara dari beban dunia. Saya bahkan sempat lupa kalau jalan-jalan ini mengorbankan jatah cuti tahunan, uang tabungan, hingga stok baju baru dan skincare korea.

Surga lain dari Jawa adalah kekayaan kulinernya. Manis di Jawa Tengah, gurih di Jawa Barat, dan Pedas di Jawa Timur. Meski kadang tak jarang menemukan berbagai kuliner pedas di Jawa Barat, pun sebaliknya. Seperti hari itu saat saya datang ke Bandung dan takjub dengan keajaiban rasa seblak. Wah ini susah banget loh mencari seblak seenak di Bandung kalau di Surabaya. Makanya jadi berat deh pas mau pulang, rasanya ingin bawah abang dan gerobak jualannya hehe.

Seblak enak, sumber: https://www.kulinermagazine.com/seblak-jeletet-murni-gunakan-level-sebagai-daya-tarik/

Thanks God, I'm alive!

Komentar (0)

Anda harus masuk terlebih dahulu untuk bisa berkomentar.