Dipublikasi pada 07 May 2018Gaya Traveling Millenial yang Serba Digital dan Ingin Mendapat Pengakuan Sosial Ya, saya suka mengambil foto. Manusia dan hatinya bisa saja berubah, tapi foto tak pernah berubah dan selalu mengembalikan kenangan indah.

Gaya Traveling Millenial yang Serba Digital dan Ingin Mendapat Pengakuan Sosial

Ya, saya suka mengambil foto. Manusia dan hatinya bisa saja berubah, tapi foto tak pernah berubah dan selalu mengembalikan kenangan indah.

Suatu hari di tahun 2018, saya sedang bernostalgia dengan foto-foto masa kecil saya yang tersimpan rapi di dalam album foto. Dimulai dari foto saat saya baru lahir, balita, masuk SD, hingga lulus SMP. Semua masa pertumbuhan saya tersimpan dengan rapi di sebuah album yang bisa dikenang.

Kenapa fotonya hanya sampai SMP? Karena semenjak kelulusan saya dari SMP, orang tua dan masyarakat di sekitar saya sudah mulai akrab dengan penggunaan handphone yang dilengkapi fitur kamera. Sehingga banyak orang mulai beralih untuk mengabadikan momen yang disimpan di memori handphone. Samahalnya seperti hari ini, perubahan yang amat saya sadari adalah ketika orang berbondong-bondong untuk menyimpan kenangannya dalam bentuk digital hingga online.

Rasa-rasanya 20 tahun hidup di bumi saya seperti sudah mengalami berbagai perubahan, termasuk perubahan gaya traveling. Lewat album foto lawas itu saya menyadari bahwa sebenarnya ada banyak perubahan gaya traveling yang terjadi di tahun 90 an dan tahun 20 an. Bahkan jika ingin ditarik lebih ke belakang, gaya traveling tahun 70 an jelas berbeda dengan tahun 2018 yang semua serba-serbinya diunggah di sosial media. Akhirnya saya pun bisa membuat beberapa daftar perbedaan mencolok antara traveling zaman now vs traveling jadul.

Segalanya mulai berubah, terasa berbeda. Membuat saya tersadar dengan umur yang semakin tua. Astaga!

1. Kartu Pos VS Whatsapp

Sebelum hari-hari kita disibukkan dengan whatsapp, skype, atau facebook, satu-satunya cara jika ingin menghubungi orang lain ketika jarak berjauhan di zaman dahulu adalah dengan menggunakan kartu pos. Apalagi ketika sedang traveling, berburu dan mengirim kartu pos menjadi aktivitas menyenangkan yang paling digemari. Lengkap dengan perburuan perangko untuk melengkapi koleksi di rumah.

Lain halnya dengan traveling zaman now, aplikasi messengers seperti whastapp yang sudah mendunia, jelas akan memudahkan setiap orang yang ingin berkomunikasi meski dipisahkan jarak yang sangat jauh.

Asyiknya mengirim kartu pos di zaman itu. Perbedaan traveling now and then, sumber: https://buzzerbeezz.com/2012/05/24/kartu-pos-dari-sungai-penuh/

2. Kamera Tustel vs Mirrorless

Dulu saat kecil yang saya ingat ketika ingin pergi liburan, Bapak pasti repot menyiapkan kamera tustel lengkap dengan klise yang harus beli baru setiap ingin memakai kamera. Fitur kameranya juga masih sederhana, asal bisa digunakan untuk menangkap objek dengan baik. Selesai berlibur, Bapak pergi ke tukang foto untuk mencuci klise dan dicetakkan, sampai akhirnya foto liburanpun jadi dan siap dimasukkan di dalam album foto.

Kalau hari ini jelas takkan kita jumpai orang repot sedemikian rupa untuk menyimpan kenangan liburannya. Liburan ditemani dengan kamera mirrorless yang mudah dibawa, foto dari memori kamera dipindah di laptop, diabadikan lewat postingan ke sosial media (Instagram, facebook, atau website). Wajar kan kalau orang zaman now jarang yang punya album foto kecuali album wisuda dan pernikahan hehe.

Revolusi kamera dari tahun ke tahun. Perbedaan traveling now and then, sumber: https://id.pinterest.com/pin/304274518548997445/

3. Mulut ke Mulut vs Platform Online

Dulu, jika ingin menentukan tujuan liburan pasti kita hanya akan mengandalkan cerita dan pengalaman dari orang lain. Tidak ada foto, ulasan tempat wisata secara online, semua murni diceritakan dari sebuah pengalaman yang pernah dilakukan. Zaman dahulu orang ramai berbondong pergi ke sebuah tempat wisata karena rekomendasi orang lain.

Kalau zaman now? Zaman yang mengedepankan kecanggihan teknologi ini memang jelas berbeda. Kita bisa mencari informasi tempat wisata lengkap dengan foto dan ulasannya lewat internet. Postingan traveling di Instagram saja bisa mempengaruhi minat kita untuk traveling kok. Bahkan merencanakan liburanpun juga bisa dilakukan lewat online. Zaman benar-benar sudah berubah ya?

Cari ide liburan? Buka situs Tabook aja. Perbedaan traveling now and then, sumber: https://id.pinterest.com/pin/304274518548997445/https://id.pinterest.com/pin/413486809509098531/

4. Gunakan Penduduk Setempat (GPS) vs Google Maps

Jangankan google map, smartphone saja dulu tak ada, lalu bagaimana orang mencari tahu jalan untuk menuju ke sebuah tujuan? Manusia zaman dahulu akan memanfaatkan mulutnya dengan baik untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat. Berhenti dari kendaraan sejenak, mencari orang sekitar, dan menanyakan jalan. Kebiasaan bertanya yang akhirnya membuat manusia zaman dahulu jadi lebih ramah dan tanggap sosial.

Akan tetapi zaman kini sudah berubah, mau pergi ke tempat wisata terpencilpun bisa digapai dengan mudah lewat panduan peta google. Traveling jadi lebih mudah kan?

Tersesat? Siapa takut! Perbedaan traveling now and then, sumber: http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-3083099/The-reason-men-don-t-ask-directions-SEXISM-Males-judged-harshly-females-ask-help-study-reveals.html

5. Album Foto vs Instagram

Apa yang dilakukan setelah pulang liburan? Memilih foto, edit sebentar, lalu upload ke instagram? Yah kalau bukan untuk upload di feed ya story. Hayo ngaku kamu pasti sering upload foto ke instagram dan sosial media lainnya kan? Iya, generasi ini memang begitu. Apalagi dengan keberadaan berbagai akun repost foto yang memiliki puluhan ribu pengikut, hasrat untuk traveling dan mendapatkan foto yang menarik pasti semakin besar.

Bayangin deh kalau fotomu sampai direpost oleh akun ternama, beuh ribuan pengikut akan mengikutimu secara cuma-cuma. Nggak usah beli pengikut, kamu sudah bisa ngendorse berbagai barang karena meningkatnya daya tarik akun instagrammu berkat direpost.

Tagar hits saat ini apa ya? Perbedaan traveling now and then, sumber:https://www.youtube.com/watch?v=8JbDFbqguxo

Lain halnya dengan dulu, saat foto yang dihasilkan dari tustel hanya bisa dibawa ke tukang foto untuk dicuci klisenya dan dicetak untuk disimpan di album foto atau pigura keluarga. Hayo kapan terakhir kali kamu memasukkan foto ke album?

6. Musik di Radio vs Smartphone

Dulu, perjalanan selama traveling terasa lebih menyenangkan ketika setiap orang di mobil ramai menyanyikan lagu yang diputar lewat radio atau kaset. Tak ada yang sibuk bermain smartphone. Tapi kini? Ya sepertinya tanpa harus dipaparkan di sini juga kamu sudah bisa menebaknya sendiri. Betapa mirisnya kebiasaan masyarakat kini yang suka bermain smartphone saat sedang dalam perjalanan bersama.

Hargai teman seperjalananmu, jangan hanya asyik menundukkan kepala untuk tertawa bersama ponsel belaka.

Perbedaan traveling now and then, sumber: http://khoobsurati.com/7-harmful-effects-of-listening-to-music-over-headphones.html/


7. Datang Langsung vs Pesan Online

Sekali lagi teknologi telah mengubah gaya hidup seseorang. Jika dulu ingin liburan, semua kebutuhan liburan harus dipesan dengan cara manual. Datang ke tempatnya langsung dan memesan di tempat.

Tapi kini, memesan apapun sepertinya bisa dilakukan lewat online. Tiket pesawat, kamar hotel, hingga tiket masuk tempat wisata juga bisa didapatkan lewat online. Kalau poin ini sih saya setuju karena sangat memudahkan kita ketika merencanakan liburan hehe.

Apalagi sejak ada Tabook, liburan jadi terasa lebih menyenangkan, karena bisa direncanakan dan memesan kebutuhan lebih mudah.

Mau liburan lebih mudah dan menyenangkan? Tabook-in aja. Perbedaan traveling now and then, sumber: https://id.pinterest.com/pin/304274518548997445/https://id.pinterest.com/pin/413486809509098531/http://flightsearchdirect.com/blog/?p=2716

Semua pembahasan di atas membawa saya pada sebuah kesimpulan. Betapa dulu traveling bisa menjadi momen yang paling dinanti dan sangat mendebarkan. Karena saya sama sekali tak akan menduga bagaimana kisah perjalanan saya nanti. Setiap hari selalu saya nanti dengan perasaan yang tak menentu. Berharap hari libur segera datang menjemput.

Dulu, traveling memang membutuhkan usaha yang lebih ekstra, tapi kesan yang ditinggalkan justru lebih istimewa. Mungkin karena kalau dulu orang traveling memang untuk menikmati perjalanannya, sedang sekarang traveling seakan dijadikan sebagai gaya hidup yang bisa dipamerkan lewat sosial media. Jadi, kamu jangan sampai terlena ya, nikmati perjalananmu agar hidup bisa lebih bahagia, bukan untuk pamer di sosial media! Happy traveling!

Komentar (1)

Anda harus masuk terlebih dahulu untuk bisa berkomentar.
  • Yuri Pratama 7 bulan yang lalu

    Saya selalu menggunakan GPS (Ganggu Penduduk Setempat / Gunakan Preman Sekitar)