Dipublikasi pada 20 Sep 2018Legenda Kota Tua Jakarta, Sejarah yang Berdiri Kokoh di antara Keramaian Ibukota “Batavia selalu ada, berdiri kokoh dan melegenda. Batavia selalu ada, tak pernah usang walau dihadapkan dengan kemajuan peradaban ibukota.”

Legenda Kota Tua Jakarta, Sejarah yang Berdiri Kokoh di antara Keramaian Ibukota

“Batavia selalu ada, berdiri kokoh dan melegenda. Batavia selalu ada, tak pernah usang walau dihadapkan dengan kemajuan peradaban ibukota.”

Tahukah kamu mengapa banyak orang ramai pergi ke Jakarta untuk mengadu nasibnya di sana? Salah satu alasannya karena mereka berekspektasi, bahwa Jakarta adalah kota besar yang sudah maju dari berbagai aspeknya. Seolah kerja apapun di Jakarta pasti akan mendatangkan banyak rupiah.

Ya, Jakarta memang kota maju. Beragam teknologi canggih berpusat di sana, pemerintahan negara juga diletakkan di sana. Namun Jakarta juga memiliki sisi yang lain, sebuah kota tua peninggalan peradaban kuno di zaman kolonial Belanda.

Sejarah Panjang Kota Tua

Kota tua bukan bagian terpisah dari Jakarta, ia hanya sebuah sisi lain dari Jakarta. Bukti bahwa sejarah pernah mencatat Jakarta sebagai kawasan penting dalam perdagangan se Asia Pasifik. Dulu, Jakarta disebut sebagai Jayakarta yang kemudian berubah menjadi Batavia.

Lukisan Batavia karya Adrianus Johannes Sumber: tirto,id

Jayakarta adalah wilayah di bawah kekuasaan dari Kerajaan Pajajaran. Hingga akhirnya colonial datang menjajah nusantara. Lalu di tahun 1619, melalui VOC Jayakarta diruntuhkan dan dibangun kembali dengan nama Batavia. Dilengkapi dengan berbagai prasarana kota, Batavia berdiri kokoh dengan bangunan mewahnya. Ada Bank Java (sekarang namanya adalah Bank Indonesia), lalu kantor dari gubernur VOC, serta pelabuhan VOC yang dilengkapi dengan berbagai corak dan kanal khas Belanda kuno.

Pelabuhan yang dibangun sedemikian rupa sebagai salah satu layanan yang diberikan untuk menunjang Batavia sebagai pusat perdagangan se Asia. Banyak saudagar dari berbagai negara datang berlayar dan melabuhkan kapalnya di Batavia. Lokasinya yang strategis, sumber daya alamnya yang melimpah ruah, Batavia seketika menjadi primadona.

Namun kini meski namanya sudah berganti Jakarta, meski kedudukannya sudah menjadi ibukota negara Indonesia, area kota tua tetap dijaga ciri khasnya seperti sedia kala. Beberapa bangunan tua bahkan masih bisa difungsikan dengan baik hingga saat ini. misalnya Kantor Pos Indonesia serta Stasiun Jakarta Kota. Sementara bangunan lainnya dijadikan museum untuk mengenang sejarah nusantara. Mulai dari Museum Bank Indonesia, Museum Keramik, Kantor Gubernur VOC, atau Museum Bank Indonesia.

Apa yang bisa dilakukan di Kota Tua Jakarta?

Ada banyak tempat bersejarah yang bisa dikunjungi selama pergi ke kota tua. Seperti yang saya lakukan waktu itu. Saya mencatat ada 4 kunjungan yang saya lakukan setibanya di sana. Kamu tertarik membaca kisah saya? Beginilah awal mula kisahnya.

1. Museum BI (Bank Indonesia)

Dulu sebelum dijadikan museum, bangunan ini juga pernah dioperasikan sebagai Bank Indonesia. Bahkan jauh sebelum itu, bangunan ini juga menjadi salah satu peninggalan yang mencatatkan banyak sejarah dengan menjadi tempat melakukan transaksi uang untuk perdagangan se Asia.

Museum Bank Indonesia, sumber: google.com

Sementara di tahun 2009, bangunan ini baru diresmikan menjadi museum oleh presiden SBY yang menjabat kala itu. seperti halnya museum lain, di sini aneka koleksi yang dipajang adalah peninggalan sejarah bangsa mulai zaman penjajah hingga kemerdekaan datang. Beragam baju tentara orang Jepang beserta samurainya, baju terntara Indonesia beserta bamboo runcingnya, juga baju tentara Belanda bersama senjata perangnya, semua dipajang sempurna di dalam bangunan ini.

Bahkan kumpulan uang dari zaman ke zaman juga dipajang tersendiri melalui ruang yang dikhususkan untuk memajang koleksi uang. Lalu di sudut ruang yang lain, ada miniature kapal, replica dari alat perjuangan para pahlawan.

Berada di museum ini saya tak pernah merasa kepanasan. Udara sejuk dari pendingin ruangan selalu membuat betah saya berlama-lama di sini. Masuk ke sana juga murah, cukup Rp 5.000,00 saja. Jika membawa kamera ke dalamnya tak perlu risau akan dikenakan biaya tambahan lagi.

2. Museum Fatahillah

Dari museum BI saya menyeberang jalan dan berjalan beberapa ratus meter, hingga akhirnya sampai di destinasi selanjutnya, yaitu museum Fatahillah. Disebut juga dengan musem Jakarta, museum ini memiliki beragam koleksi prasasti zaman dahulu kala lengkap dengan penjara bawah tanahnya. Menurut catatan sejarah, museum ini dulu pernah menjadi kantor gubernur yang bernama Ali Sadikin. Dan beliau sendirilah yang meresmikannya di tanggal 30 Maret tahun 1974.

Tepat di depan museum, ada lapangan yang biasa digunakan tempat berfoto karena lokasinya yang strategis dengan menghadap berbagai bangunan kuno yang antik. Selain itu saya juga bisa menyewa sepeda ontel di pinggir lapangan untuk saya gunakan mengelilingi lapangan.

3. Ada si Jagur, Meriam tua dari Batavia

Ketika saya berdiri di tengah lapangan Fatahillah, sebenarnya saya bisa melihat ada beberapa Meriam yang terpajang di sisi lapangan. Namun sebuah Meriam yang terletak sendiri berpisah dengan Meriam lainnya membuat saya tertarik untuk mendekati. Apalagi bentuknya yang unik makin membuat saya jadi penasaran.

Tepatnya di sisi kiri Café Batavia, depan museum Fatahillah, Meriam yang bernama Jagur ini adalah buatan Macao yang digunakan untuk mempertahankan benteng bangsa Portugis yang berada di Malaka. Seiring dengan kekalahan Portugis dari Belanda, di tahun 1641 meriam ini dipindahkan ke Batavia untuk dijadikan senjata mempertahankan kota.

4. Istirahat sejenak di Café sekitar Batavia

Kawasan ini juga dipenuhi dengan café yang menawarkan konsep zaman colonial. Seperti contohnya ada café Bang Kopi, café Batavia, café Historia, juga café Djakarte. Selain menu yang disajikan unik-unik, dekorasi café juga menarik loh (ala vintage).

Namun sayang kunjungan saya ke Kota Tua harus berakhir karena sore mulai menjelang. Ya, rasanya berkeliling kota tua memang tak cukup setengah hari. Karena masih banyak tempat yang belum saya kunjung. Seperti stasiun Jakarta kota, museum wayang, museum keramik, bahkan museum nasional. Sayang sekali kan?

Sepertinya di lain kesempatan saya harus kembali ke sini untuk menuntaskan semua kunjungan tanpa sisa.


Komentar (0)

Anda harus masuk terlebih dahulu untuk bisa berkomentar.