Dipublikasi pada 16 Jul 2018Sehari di Kota Palembang, Sebelum ASIAN Games Datang Menjelang   2018 akan menjadi tahun yang penting bagi Indonesia khususnya Palembang yang akan menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan event ASIAN Games. Keberadaan ajang tersebut ternyata dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah dengan cara mengenalkan Palemban...

Sehari di Kota Palembang, Sebelum ASIAN Games Datang Menjelang  

2018 akan menjadi tahun yang penting bagi Indonesia khususnya Palembang yang akan menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan event ASIAN Games. Keberadaan ajang tersebut ternyata dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah dengan cara mengenalkan Palembang lebih dalam melalui paket wisata yang ditawarkan.

Karena saya termasuk orang yang suka baca berita berbau pariwisata nusantara, tentu saja saya jadi memiliki semangat membara untuk bertualang ke Palembang sebelum ASIAN Games dimulai. Singkat cerita, sebuah rencana perjalanan akhirnya saya laksanakan pekan lalu.

Penginapan The Daira Palembang di pagi hari. Sumber: https://www.hotel-tourist.net/south-sumatera/alamat-hotel-the-daira-hotel-palembang-palembang/

Kaki saya menginjakkan langkahnya di tanah Palembang tepat pada malam hari. Karena sebelumnya saya juga sudah memesan kamar di sebuah penginapan, tujuan utama saya setelah sampai di bandara jelas adalah tempat penginapan. Melakukan perjalanan seorang diri artinya saya benar-benar harus mandiri meski saya hanyalah seorang wanita. Beruntungnya saya kala itu karena transportasipun kini bisa dipesan melalui online. Bermodal kuota internet dan smartphone, sebuah mobil Avanza datang menghampiri saya dan siap mengantarkan saya ke penginapan.

Selama di mobil, saya sibuk bercakap-cakap dengan pak sopir guna mendapatkan informasi yang lebih akurat. Apalagi kalau yang menyetir adalah pemuda tampan kan sayang kalau nggak diajak ngobrol hehe. Jadi hari itu saya bertanya kepada beliau tentang rute perjalanan wisata di Palembang. And how lucky I am, tanpa saya meminta beliau bersedia menemani perjalanan saya esok hari. Karena saya sudah terlanjur senang dengan kabar baik ini, saya jelas tidak sempat kepikiran dengan isu-isu penculikan atau penipuan seperti yang pernah diberitakan. Bagi saya, dipertemukan dengan beliau adalah rejeki dari Tuhan yang harus dimanfaatkan dengan baik.

Karena ini adalah perjalanan pribadi, saya pun meminta untuk janjian esok hari lewat pesan whatsapp, bukan aplikasi tempat beliau bekerja. Alhamdulillah, beliau pun bersedia, tentu saja dengan kesepakatan bisnis yang sudah disepakati bersama sebelumnya.

Diawali dengan wisata religi di Pesantren Al-Akbar

Malam itu terasa singkat, karena saya hanya merasakan tidur sesaat ketika alarm pagi saya mulai berbunyi. Sebenarnya sedikit ada rasa malas bangun, tapi mengingat saya hanya punya waktu satu hari di Palembang, rasa malas itu jelas harus dibuang. Usai mandi dan menyiapkan peralatan yang perlu dibawa, saya pun sarapan pagi dengan roti yang saya bawa dari Malang (itung-itung penghematan hehe).

Kenyang sarapan, saya pun memberi kabar pada Mas Andi (seorang baik hati yang akan menemani jalan-jalan saya hari ini). ternyata beliau sudah siap sejak beberapa menit yang lalu di depan penginapan. Melangkahkan kaki dengan riang, saya pun bertanya ke mana tempat pertama yang akan kami tuju? Karena beliau juga sudah membaca daftar destinasi yang saya inginkan, beliau langsung menjawab

“kita akan pergi mengikuti jalan, biar lebih efektif dan rata bisa dikunjungi semua.”

Batinku menjawab, “saya nggak salah pilih teman jalan ternyata, jadi kapan kamu jadi teman hidupku mas?” hehe skip.

Ilustrasi ketampanan Mas Andr, teman jalan di Palembang. Sumber: https://unsplash.com/photos/8e2gal_GIE8

Pagi itu saya langsung dibawa untuk mengunjungi pesantren Al Akbar dengan ikon menariknya, Al-Qur’an Al Akbar. Tak perlu cemas karena tersesat, karena teman jalan saya kali ini adalah penduduk lokal dari Palembang yang sudah khatam dengan semua jalan tikus di kotanya.

Keajaiban dunia, Al-Quran terbesar di Palembang. Sumber: https://alarham.wordpress.com/2015/06/13/al-quraan-terbesar-di-dunia-ada-di-palembang/

Di tempat ini saya dibuat takjub dengan Al-Quran yang ditulis lengkap dalam 30 juz di semua sisi bangunan. Suasana religious kian kental ketika masuk ke dalam ruangan, ya karena di sini ada banyak orang terutama ibu-ibu yang khusyu memanjatkan doanya.

Saya rasa, bukan hanya muslim yang bisa menikmati wisata religi ini. Karena di sini saya juga sempat berpapasan dengan beberapa pengunjung non muslim tapi menggunakan pakaian tertutup.

Ya, di tempat ini saya bisa merasa bangga, sebagai muslim juga sebagai warga Negara Indonesia. Betapa kayanya negeri ini dengan warisan budaya, suku, dan agama. Merinding!!!

Wisata Kuliner Pempek Palembang

Puas mengitari pondok, destinasi selanjutnya adalah mencicipi pempek Palembang di Pasar Hilir yang letaknya berdekatan dengan ponpes Al-Akbar. Di pasar inilah saya baru menyadari bahwa ternyata pempek Palembang banyak jenisnya, lebih dari 10 seingat saya. Bahan utamanya pun terbuat dari potongan ikan gabus asli sehingga rasanya benar-benar berbeda dari pempek yang pernah saya makan. Karena kelezatan dan originalitas rasa inilah, arga satu porsi pempek di sini lebih mahal daripada di Malang hehe. mulai dari 15.000—20.000 rupiah setiap posinya. Untungnya satu porsi di sini sama dengan porsi makan siang saya, jadi saya tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk makan siang.

Pempek Palembang, salah satu makanan tradisional terlezat di dunia. Sumber: http://www.resepumiku.com/2016/02/resep-cara-membuat-empek-empek-palembang-asli-yang-enak.html


Beneran sih guys kalau ke Palembang, yang wajib dan tak boleh dilewatkan itu ada 3. Pertama Museum Al-Quran, lalu jembatan Ampera, dan terakhir makan pempek Palembang yang asli. Enaknya nggak ketulungan ini pempeknya. Beda sama yang biasa saya makan di Jawa. 

Sambang ke Ikon Palembang, Sungai Musi dan sekitarnya

Semua orang tentu tahu bahwa Palembang ini terkenal dengan jembatan ampere yang terletak melintang di atas Sungai Musi. Siang itu, Mas Andi mengajak saya untuk menikmati pemandangan jembatan ampere dengan cara menaiki kapal menyusuri sungai Musi. Ide seperti ini hanya akan muncul jika saya pergi bersama seorang guide lokal yang handal seperti dia. Akan lain cerita jika hari itu saya pergi seorang diri, paling mentok saya hanya bisa berdiri mengagumi musi dari atas jembatan.

Transportasi di Ampera, sumber: @fpfdimas

Tak berhenti dengan menyusuri Musi saja, kami juga langsung pergi ke destinasi wisata di sekitar Musi yaitu Pulau Kemaro serta Kampung Al Munawar. Diceritakan oleh Mas Andi, Pulau Kemaro memiliki mitos yang melegenda. Seorang saudagar kaya dari Tionghoa datang untuk menyunting putri Kerajaan Palembang. setelah mendapat restu, keduanya pun berangkat menuju Tionghoa dengan berlayar melewati sungai Musi. Namun hingga akhir hayat, mereka ternyata tidak pernah sampai ke daratan karena menurut orang sekitar mereka diketahui sama-sama melompat ke dalam sungai.

Legenda Pulau Kemaro, Wisata Palembang. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Kemaro

Di pulau Kemaro, ada sebuah pagoda yang kental dengan gaya Tionghoa-nya. Sebuah spot yang cukup menarik untuk dijadikan koleksi foto perjalanan.

Spot foto instagramable di Pulau Kemaro, Palembang. Sumber: https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/kisah-tan-bun-an-yang-melegenda-di-pulau-kemaro

Sementara di kampung Al Munawar, lain lagi ceritanya. Karena di kampung ini, adat yang kental terasa adalah Arabian. Bahkan sampai masyarakatnya pun juga mayoritas didominasi oleh keturunan Arab. Di tempat ini saya merasa bahagia sekali karena banyak menjumpai anak kecil bermain lepas bersama. Mereka tertawa bahagia, ramah menyapa para wisatawan yang datang. Karena itulah menghabiskan banyak waktu di kampung ini benar-benar tidak terasa. Kurang lebih pukul 17.00, Mas Andi mengajak untuk kembali agar sempat menyaksikan sunset dari ampera.

Kisah Perjalanan ditutup dengan Sempurna oleh Sunset di Ampera yang Mempesona

Ya, inlah akhir dari perjalanan sehari saya di Palembang. meski hanya sehari, meski hanya sesaat, kenangannya benar-benar melekat. Jika saja saya tak ada acara untuk esok hari, jelas saya masih ingin menuntaskan daftar destinasi impian saya di sana. Namun sayang waktu tidak mengijinkan saya pulang terlambat.

Romantis, sunset di Ampera. Sumber: https://www.flickr.com/photos/[email protected]/15542528664

Spesial terimakasih saya ucapkan pada Mas Andi yang sudah berbaik hati menemani perjalanan saya kali ini. sehingga saya berhasil menciptakan kenangan indah di perjalanan yang super singkat ini. lain kali kalau saya datang lagi, semoga bisa ditemani jalan jalan lagi ya hehe.

Terimakasih Palembang, berkatmu saya bisa merasa senang! Semoga kamu bisa jadi tuan rumah Asian Games 2018 yang baik dan menyenangkan! Agar kelak kotamu jadi kebanggaan dan makin sering dikunjungi karena indah alam dan wisatanya!

Komentar (0)

Anda harus masuk terlebih dahulu untuk bisa berkomentar.