Dipublikasi pada 13 Aug 2018Perjalanan yang Tak Terlupakan, di Gunung Batur yang Penuh Kenangan Sepanjang jalan di Gunung Batur, ada cinta, rindu, peluh, senyum, dan bahagia beradu jadi satu. I'm fallin in love, his name is Batur Mountain.

Perjalanan yang Tak Terlupakan, di Gunung Batur yang Penuh Kenangan

Sepanjang jalan di Gunung Batur, ada cinta, rindu, peluh, senyum, dan bahagia beradu jadi satu. I'm fallin in love, his name is Batur Mountain.

Masih ingat dengan perjalanan pendakian saya ke Bromo? Sebuah pendakian yang menguras tenaga bagi saya yang masih seorang pemula. Pendakian ke Bromo tampaknya sudah menjadi sebuah candu bagi saya, meski dulu ketika mendaki banyak nyambat nya di perjalanan, tapi nyatanya hingga kini saya tak pernah menolak jika ada ajakan untuk mendaki lagi.

Seperti yang baru-baru ini saya lakukan ketika seorang teman mengajak saya mendaki Gunung Batur di Bali. Sebelumnya saya sudah pernah bercerita dengan singkat tentang perjalanan saya ke Bali bersama Kadek, kali ini saya kembali akan membahas Bali lewat Gunung Baturnya. Sebuah pendakian yang tak pernah saya lupakan. Semoga kisah ini bisa kamu simak sampai tuntas, lantas kita bisa saling berbagi pikiran melalui kolom komentar di bawah sini.

Mendaki Gunung Batur bagi Pemula, source: www.pexels.com

Sama seperti pendakian sebelumnya, kisah di Gunung Batur ini juga masih banyak nyambat nya kok hehe. Kalau kamu ingat, perjalanan saya ke Gunung Batur adalah untuk berburu sunrise, jadi saya bersama Kadek berangkat dari kawasan Kuta pada dini hari. Bersepeda, menerjang dinginnya angin malam untuk menyambut pagi yang indah dari Batur.

Dirundung galau sebelum pendakian

Sebenarnya sebelum berangkat, Kadek sudah mewanti-wanti, karena Gunung Batur bukan gunung rendah yang mudah dicapai. Ada banyak tanjakan dan tikungan tajam yang harus dilewati untuk bisa sampai puncak. Berada di ketinggian 1.717 mdpl, tentu saja medan pendakian Gunung Batur tidak bisa disamakan dengan Gunung Bromo, terangnya kala itu.

Berkat wanti-wanti itu, saya sempat dirundung galau berkepanjangan. Beberapa kali saya mengeluarkan putusan plin plan. Sebentar bilang berangkat, setelahnya hilang nyali kemudian. Hingga akhirnya si Kadek merasa sedikit jengkel dan berucap,

“nanti kalau sudah punya keputusan akhir, bangunkan saya.”

Sebuah ucapan pendek yang mampu menghujam di dada begitu dalam. Kadek benar, seharusnya saya tak melakukan sesuatu dengan ragu-ragu. Harus ada keputusan yang tepat disertai dengan tekat yang bulat. Dasar wanita labil.

Bingung, budal ga yo? source: www.pexels.com

Sampai akhirnya beberapa puluh menit terbuang sia-sia untuk membuat keputusan. 30 menit berlalu, saya mantap membuat keputusan ingin mendaki. Usai menyampaikan beberapa umpatan hasil kekesalannya pada saya, Kadek pun segera mengambil jaketnya dan beranjak memanaskan sepeda motor.

Semangat 45 menuju Gunung Batur

Kira-kira pukul 04.00 kami sampai di parkiran. Jam yang tepat karena sudah banyak pendaki mulai berdatangan. Sesuai rencana awal, kami baru akan berangkat jika ada rombongan yang berangkat, alias jadi ekor saja. Satu hal yang harus diperhatikan sebelum mendaki adalah kebugaran fisik. Meski tidak semenakutkan Semeru, tetap saja kalau fisik lama tidak dibuat olahraga, pendakian ke mana saja juga tetap akan melelahkan.

Bukti kebugaran fisik itu penting ada di saya, beberapa kali saya meminta Kadek untuk beristirahat karena sepertinya kondisi tubuh saya tidak fit 100%. Padahal sebenarnya Kadek sudah sering menyampaikan, akan lebih bagus untuk tetap berjalan meski perlahan dibandingkan dengan sedikit-sedikit berhenti. Pola pendakian seperti itu katanya lebih melelahkan. Tapi saya memang bebal tak bisa dibilangi, alhasil ya memang lebih lelah sih.

Sampai akhirnya kami tiba di pos pertama dari puncak Gunung Batur. Sebuah pencapaian yang luar biasa menurut saya hehe. Sebenarnya dari pos ini pemandangan menakjubkan sudah bisa disaksikan dengan leluasa. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk berhenti di pos ini saja. Toh selain saya, ada banyak pendaki lain yang sudah merasa cukup dan memutuskan menanti terbitnya matahari dari sini.

Memang sih, pemandangan dari puncak sebenarnya juga pasti lebih mengesankan. Tapi daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat kondisi saya yang labil ini, berhenti di sini adalah pilihan yang tepat. Toh dari tebing sini, saya juga masih bisa menyaksikan keajaiban Tuhan lewat terbitnya matahari pagi. Perlahan tapi pasti, matahari mulai bergerak, seolah beranjak keluar dari persembunyiannya di balik gunung.

Saya sama seperti pendaki pada umumnya, selain sibuk mengabadikan momen dengan mata anugerah Tuhan, saya juga ingin mengabadikannya dengan kamera buatan manusia. Sebagai kenangan bahwa saya juga pernah mengalami hari yang mengesankan ini. Ya, meski tak pernah sampai ke puncak, saya sudah merasa puas dengan segala pengalaman menakjubkan yang saya dapatkan hari itu.

Bahwa ternyata, sunrise di Bali tidak hanya milik pantai Sanur, tapi juga milik Gunung Batur.

Beberapa waktu berlalu, matahari mulai menunjukkan teriknya. Pos semakin sepi, banyak pendaki mulai meninggalkan pos. begitu pula dengan kami yang mulai beranjak turun. Melewati jalan yang sudah diaspal, perjalanan pulang entah mengapa terasa lebih mudah.

Tak ada yang sia-sia dari perjalanan ini, setelah mendapatkan hadiah utama berupa sunrise, selama perjalanan pulang kami pun mendapatkan banyak bonus pemandangan. Hijaunya pepohonan di jalan setapak, penduduk yang mulai berladang, ah semua benar-benar melegakan hati.

Lain kali, suatu hari nanti saya pasti akan kembali. Dengan keadaan yang lebih baik agar bisa menikmati kecantikan Gunung Batur dari puncaknya. Ini ceritaku, bagaimana denganmu? Yuk saling berbagi cerita dan pengalaman di sini ya!


Komentar (0)

Anda harus masuk terlebih dahulu untuk bisa berkomentar.