Dipublikasi pada 03 Aug 2018Belajar Mendaki bersama Bromo Bagiku pencapaian itu sederhana, bisa menikmati indahnya dunia di atas kawah Bromo.

Belajar Mendaki bersama Bromo

Bagiku pencapaian itu sederhana, bisa menikmati indahnya dunia di atas kawah Bromo.

Hidup di jaman ini rasa-rasanya traveling sudah menjadi kebutuhan dasar yang tidak bisa ditinggalkan oleh generasi muda, termasuk saya. Banyak tempat yang bisa dikunjungi untuk traveling melepas penat.

Bagi saya, traveling ke pantai dan coban sudah menjadi hal yang biasa. Tapi kalau berbicara tentang gunung, saya akan mundur seketika. Alasannya 1, mendapatkan ijin orang tua untuk pergi ke gunung tidak semudah saat meminta ijin main ke pantai. Sampai dulu saya pernah berpikir untuk berbohong demi merealisasikan tujuan pergi ke gunung. Dan akhirnya demi menuntaskan impian mendaki gunung, saya pun mencari alasan untuk membuat sebuah kebohongan. Berbekal kebohongan ada tugas kampus ke luar kota, saya pun akhirnya nekat pergi ke gunung.

Ku terpaksa berbohong demi ke Bromo, picture source: https://www.wikihow.com/Detect-a-Liar

Karena masih pemula, Bromo jadi tujuan utamanya

Destinasi yang dipilih adalah Bromo. Alasannya simple, karena saya pemula maka harus diawali dari pendakian paling mudah. Saya pergi bersama rombongan, masing-masing berboncengan dengan total 6 motor. Kala itu rute yang kami pilih adalah lewat daerah Tumpang, Kabupaten Malang.

Berangkat selepas magrib, kami sampai di rest area gerbang pendakian setelah kurang lebih 2 jam perjalanan. Kamipun berisirahat sejenak sembari mengisi bekal bahan bakar untuk motor masing-masing. Di situlah saya baru tau, kalau ke Bromo juga bisa ditempuh dengan mudah dan nyaman dengan menyewa jeep yang harganya lumayan lah Rp 600.000,00. Karena rombongan saya adalah backpacker yang sudah biasa mendaki, iming-iming kenyamanan jeep tidak akan menggoda mereka.

Mendaki gunung lewati lembah, picture source: https://www.pexels.com/photo/three-people-hiking-on-high-mountain-771079/


Sempat panik, saat motor matic teman mendadak mengeluarkan api sepercik

Setelah menyelesaikan urusan di rest area, kami melanjutkan perjalanan panjang malam ini. Jalanan terasa semakin naik dan berat untuk dilewati motor kami. Dan hasilnya adalah salah satu motor matic teman saya sempat mogok disertai dengan kepulan asap yang keluar dari mesin motor. Sebagai wanita yang tak tahu menahu masalah motor dan gunung, jujur saya panik. Apalagi perjalanan ini tidak dilengkapi dengan restu orang tua saya. Duh parno sendiri.

Akhirnya teman-teman pun berinisiatif untuk tukar tumpangan. Motor matic yang sempat berasap tadi dinaiki oleh 2 orang yang bertubuh cungkring. Sementara pengendara aslinya beralih ke motor lain karena tubuhnya yang besar. Pelan-pelan kami mulai menapaki jalan ini dan alhamdulillah motornya nggak rewel lagi.

Ketika berada di jalan naik, kami yang dibonceng harus turun dan jalan sampai jalannya datar lagi. Pola seperti itu terus kami lakukan sampai kami tiba di kawasan parkir wisata Bromo.

Pernahkah motormu mengalami mogok saat ke Bromo? Picture source: https://www.pexels.com/photo/clouds-italian-motor-scooter-parking-4801/

Ternyata begini rasanya menginap di gunung, dingin dan menggigil

Setelah ini barulah perjalanan sesungguhnya dimulai, begitulah kiranya peringatan singkat yang dikatakan teman saya. Bermodal nekat dan doa, saya mantap meneruskan perjalanan ilegal ini hehe.

Setelah cukup jauh berjalan di jalan yang masih datar dan tidak menanjak, kami sampai di lokasi yang sudah dipenuhi tenda-tenda. Tepat pukul 23.00 tenda kami berhasil berdiri. Setelah mendirikan tenda, kami para wanita menyiapkan makanan untuk disantap bersama di depan tenda, sementara para lelaki sibuk menyiapkan api unggun untuk menghangatkan diri di malam hari.

Setelah kenyang makan, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati keindahan malam hari di gunung Bromo. Sementara semua orang sudah masuk ke tenda masing-masing, saya dan 2 teman laki-laki yang masih setia menemani, berbaring di atas banner yang dijadikan alas untuk melihat gemerlap bintang.

Tepat pukul 01.00 saya mulai merasa ngantuk dan akhirnya pamit untuk tidur lebih dulu di tenda. Segala perlengkapan tidur saya keluarkan, mulai dari sleeping bag, syal, jaket, dan sarung tangan lengkap melindungi tubuh saya. Bahkan dengan segala perlengkapan itu, saya masih bisa merasakan dingin menembus paaian tebal ini. Sempat bergulat cukup lama dengan dingin ini, akhirnya saya pun bisa tertidur juga.

Kala itu saya sedikit was-was takut kalau kesiangan bangun dan tidak sempat menyaksikan sunrise.

Dan ternyata benar kejadiannya begitu, kami semua baru bangun saat matahari sudah benar-benar keluar dari peristirahatannya. Pukul 05,30, waktu yang cukup siang untuk memulai petualangan di Bromo.

Sedikit kecewa sebenarnya, tapi terobati setelah saya disuguhkan dnegan pemandangan pagi di Bromo yang tak kalah menarik dengan sunrise nya.

Padahal harusnya sunrise Bromo seindah ini. Picture source: https://bromoindonesia.com/bromo.html

Mengeja sempurnanya  Bromo yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata

Kalau di gunung mandinya di mana? Jujur, pertanyaan itu yang saya lontarkan pertama setelah bangun membuka mata. Sontak saja teman-teman saya tertawa mendengarnya. Saya saja kalau mengingat "keluguan" saya waktu itu sungguh masih merasa malu di sekujur tubuh kok.

Aktivitas pertama yang saya lakukan setelah bangun tidur adalah cuci muka dan sikat gigi, sebelum membantu teman wanita untuk memasak mie sebagai menu utama sarapan. Sedangkan para lelaki sibuk membereskan tenda, karena pagi itu setelah makan kami berencana untuk segera bergegas mengelilingi Bromo agar sempat mencicipi pesonanya walaupun sedikit-sedikit.

Di sela-sela memasak, saya sempat berjalan-jalan di sekitar area bermalam kami. Saya iseng saja mengikuti langkah kaki orang lain hingga akhirnya mengantarkan saya di Ranu Pane. setibanya di sana, sungguh saya merasa takjub dengan pemandangan hijaunya yang asri dan terbias sempurna di permukaan danau. JIka Ranu Pane saja secantik ini, betapa cantiknya lagi Ranu Kumbolo yang sering dielukan orang-orang.

Mungkin lebih dari 10 menit saya menghabiskan waktu di tepi danau, sebelum akhirnya salah seorang teman saya menjemput dan memanggil paksa saya agar segera kembali untuk sarapan dan melanjutkan perjalanan.

Sarapan pagi selesai, kami siap untuk menjelajah Bromo. Tujuan pertamanya adalah Bukit Teletubbies. Hamparan bukit hijau terpampang luas sejauh mata memandang. Komposisi gradasi warna hijau bukit terasa menyegarkan mata. Belum lagi rumput ilalang yang semakin membuat bukit ini tampak lebih eksotis. Sementara sibuk mengabadikan pemandangan dengan jepretan foto, beberapa teman saya mulai menggelar karpet di atas hamparan hijau ini. Ada yang berebah di atasnya sembari menikmati semilir angin, ada juga yang mulai mendaki bukit untuk lebih mengeksplor pemandangan.

Usai menikmati bukit teletubbies, tujuan selanjutnya adalah kawah bromo yang bagi saya menjadi titik balik dalam perjalanan ini. Maklum saja sedari kemarin, pendakian yang saya alami masih belum mencapai titik paling melelahkan. Ibarat kata saya masih mendaki di bagian lempeng-lempengnya. Jadi saya pun diajak untuk mendaki ke kawah dengan kaki sendiri, tidak dengan tawaran menaiki kuda yang hanya dibandrol harga Rp 50.000,00 saja. Jarak tempuh dari bukit ke kawah jelas sangat jauh, masih harus ditempuh dengan bantuan sepeda motor. Kami juga masih harus melewati area padang pasir Bromo yang kadang membuat ban motor terasa licin. Kala itu saya benar-benar dibuat takjub, bagaimana tidak, setelah mata dimanjakan dnegan pemandangan hijau asri, lalu beralih ke pemandangan padang pasir luas seolah-olah saya berada di Afrika saja. Duh bagus pokoknya.

Berkuda di Bromo, picture source: www.tabook.id

Setelah sampai di parkiran menuju kawah, hanya 4 orang yang memutuskan untuk mendaki dan saya satu-satunya wanita yang berangkat. Karena 2 teman wanita saya yang lain sudah merasa lelah sebelum berperang saat melihat tanjakan yang harus dilalui untuk mencapai puncak. Demi menuntaskan impian mendaki, saya membulatkan tekad untuk tetap mendaki ke kawah meski nantinya akan merepotkan teman laki-laki saya haha.

Apa akhirnya saya bisa sampai ke puncak atau malah turun di tengah jalan?

Dengan segala tekad dan niat yang kuat, akhirnya saya sampai loh di puncak dengan selamat. Butuh waktu lebih dari 30 menit bagi saya untuk bisa sampai di puncak. Dan segala perjuangan itu terbayar tuntas dengan keindahan kawah yang tidak bisa digambarkan lagi dengan kata-kata. Intinya saya pasti mau kok kalau diajak ke Bromo lagi, berapa kalipun itu nggak akan bosan dengan segala keindahan yang ditawarkan. Tunggu saya kembali ya Bromo, tentunya setelah saya dapat ijin legal dari orang tua.

Kamu pernah punya pengalaman serupa nggak guys? Ceritakan pengalamanmu juga dong. Karena sepertinya saya juga tertarik untuk mencoba pengalaman baru naik ke Bromo menggunakan jasa tour agen. Contohnya seperti naik Moda Tour and Travel, itu testimoninya di instagram menggiurkan sekali, jadi ingin nyoba! Kamu pernah nggak ke Bromo menggunakan tour agen? Share ceritamu di komentar ya, barangkali kamu bisa juga memberikan saya referensi tour agen.

Komentar (0)

Anda harus masuk terlebih dahulu untuk bisa berkomentar.